Bukit Kasih: Perwujudan Kerukunan Beragama di Manado
Manado tidak hanya terkenal dengan pariwisatanya yang indah saja, tetapi juga terkenal dengan kota kerukunan antar umat beragama yang tinggi dan sepatutnya dicontoh oleh kota-kota lainnya. Keragaman agama yang dianut masyarakat Manado, seperti Kristen Protestan, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Kerukunan antar umat beragama di Manado dapat dilihat dari filsafat hidup masyarakat Sulawesi Utara yaitu Si Tou Timou Tumou Tou yang berarti “Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain” atau “Orang hidup untuk menghidupkan orang lain”. Dan tercermin dalam semboyan Manado yaitu Torang samua basudara yang artinya “Kita semua bersaudara”.
Manado juga memiliki perwujudan atas kerukunan tersebut, yakni dalam sebuah bangunan dan dijadikan salah satu tempat pariwisata yang banyak dikunjungi dan popular di Manado. Tempat wisata tersebut adalah Bukit Kasih yang terletak di Desa Kanonang, Kawangkoan, Sulawesi Utara.
Bukit Kasih ini memiliki monumen (tugu) yang cukup tinggi dan setiap sisinya melambangkan 5 agama yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Monumen ini merupakan titik awal penelusuran di Bukit Kasih.
Di puncak Bukit Kasih, kerukunan tersebut kembali dilambangkan dengan 5 tempat peribadatan dari masing-masing agama yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha yang letaknya saling berdekatan. Untuk mencapai puncak bukit perjalanan akan diiringi dengan banyaknya anak tangga yaitu sekitar 2345 anak tangga.
Dengan demikian, Manado memang tercermin sebagai kota dengan kerukunan umat beragama yang begitu luar biasa. Meskipun berbeda-beda agama namun tetap satu jua.




